RSS

Hukum Mengambil upah bekam

English: Arabic Calligraphy for 'ṣallā llahu ʿ...

English: Arabic Calligraphy for ‘ṣallā llahu ʿalayhi wa sallam’ (صلى الله عليه وسلم, SAW, an honorific which (in abbreviated form) commonly follows the name of Muhammad in Muslim Arabic texts. (Photo credit: Wikipedia)

Hukum mengambil upah bekam

ahli bekam

ahli bekam

Dari Humaid ia berkata : Anas Bin Malik pernah ditanyai mengenai mengambil upah bekam ? ia menjawab : “ “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam. Yang membekamnya adalah Abu Thaibah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan dua sha’ gandum kepadanya.” (Hr. Muslim (10/242), Tirmidzi (1278) Syamail (361), Thahawi (syarh Ma’ani)(4/131), Ibnu Jauzi (Tahqiq)(1587), Bukhori (10/4) (Sanad)

dari Ibnu Abbas ia berkata : Nabi SAW dibekam oleh seorang budak dari Bani Bayadloh, mK beliau memberikan upahnya, dan beliau mengatakan kepada tuannya untuk meringankan dari bebannya, dan jika itu buruk tentu Nabi SAW tidak akan memberikannya. (Ahmad (1/365),Muslim (10/242), Abu Aunah (3/358/5298), At-Thabari (Al-Kabir)(12/96/12589), Al-Baihaqi (Al-Kubro)(9/338)

Dari Ibnu Abbas : Sesungguhnya Rasulullah SAW berbekam, dan beliau memberikan upahnya, kalaulah hal itu haram, tentu ia tidak akan memberikannya. (HR. Ahmad (1/351), Bukhori (2/11. Sanadi), Abu Dawud (3423), Baihaqi (Al-Kubro)(9/338)

bayaran bekam

bayaran bekam

Dari Ibnu Muhayyishoh dari Ayahnya : bahwasannya ia meminta ijin kepada Nabi SAW dalam mengambil upah bekam, maka beliau melarang darinya, maka ia terus-terusan menanyakannya dan beliau pun mengijinkannya, sehingga beliau berkata : (gunakanlah untuk memberi makan binatang peliharaanmu atau budakmu). (hadis riwayat Ahmad no 22578)

Dari Rafi’ Ibn khadij dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Hasil penjualan anjing itu kotor. Hasil melacur itu juga kotor. Pendapatan tukang bekam itu kotor.” (Hr. Muslim, no. 4095)

Dalam hal menerima upah, disini ada 3 permasalahan :

1. Halal upah bekam secara umum

2. Halal upah bekam untuk member makanan ternak dan budak

3. Menerima upah bekam itu kotor.
Mayoritas ulama, yaitu Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah, dan salah satu pendapat para ulama Hanabilah, berpendapat bolehnya menjadikan bekam sebagai profesi dan mendapatkan upah dari membekam.

Dari Ibnu Abbas, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam dan memberikan upah kepada tukang bekam. Seandainya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahwa hal tersebut terlarang, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memberi upah kepadanya.” (Hr. Bukhari, no. 2159)

Dari Ibnu Abbas, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah dibekam dan beliau memberi upah kepada tukang bekam. Seandainya beliau mengetahui bahwa upah bekam itu khabits/kotor, tentu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memberikannya.” (Hr. Abu Daud, no. 3423; Dinilai shahih oleh al-Albani)

Dari Anas, beliau ditanya tentang hukum mendapatkan upah dari membekam. Beliau menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam. Yang membekamnya adalah Abu Thaibah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan dua sha’ gandum kepadanya.” (Hr. Bukhari no. 5371, dan Muslim no. 62)

Seandainya mengupah tukang bekam itu haram, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan melakukannya, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan mengizinkan seorang pun untuk makan dari upah jasa membekam.

Selain itu, bekam adalah jasa yang bersifat mubah (diperbolehkan –ed), maka boleh meminta upah dengannya, sebagaimana jasa tukang bangunan dan penjahit. Juga, banyak orang yang membutuhkan bekam, dan tidak semua orang yang pandai membekam mau membekam dengan cuma-cuma. Oleh karena itu, boleh meminta upah dengannya sebagaimana upah menyusui anak orang lain.

Akan tetapi, banyak di antara ulama yang memperbolehkan bekam sebagai sebuah profesi, yang berpendapat bahwa bekam adalah sebuah pekerjaan yang hina karena harus akrab dengan najis –yaitu darah– sebagaimana tukang sapu. Dengan pertimbangan ini, maka berprofesi sebagai tukang bekam dimakruhkan.

Al-Qurthubi mengatakan, “Yang benar adalah bahwa penghasilan tukang bekam itu termasuk pendapatan yang baik. Siapa saja yang mengambil harta yang baik maka kehormatannya tidaklah gugur dan martabatnya tidaklah turun.”

Setelah menyebutkan hadits bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbekam, Ibnu Abdil Barr mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa penghasilan tukang bekam itu adalah sesuatu yang baik, karena tidak mungkin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi upah sebagai kompensasi untuk sesuatu yang batil.”

Adapun sebagian Hanabilah (pengikut Mazhab Hambali) dan juga Qadhi Abu Ya’la menyatakan bahwa Imam Ahmad mengatakan upah tukang bekam itu tidak diperbolehkan. Andai orang yang membekam mendapatkan sesuatu sesudah membekam tanpa ada perjanjian terlebih dahulu, maka boleh diambil, namun dimanfaatkan untuk makanan ternak atau biaya membekam, dan pemberian itu tidak boleh digunakan untuk kepentingan pribadi tukang bekam tersebut.
Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa hasil yang didapat oleh tukang bekam itu kotor. Bahkan, upah tukang bekam itu, disejajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan upah seorang pelacur.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya, upah pelacur, hasil penjualan anjing, serta pendapatan tukang bekam itu suht (haram).” (Hr. Ibnu Hibban, no. 4941; Syekh Syu’aib al-Arnauth mengatakan, “Sanadnya shahih sebagaimana kriteria Muslim.”)

 

One response to “Hukum Mengambil upah bekam

  1. ar_rahmi

    16 November 2012 at 3:37 am

    nice post, thx for sharing

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: